Suasana damai dan penuh kekhidmatan menyelimuti Desa Suka Makmur pada hari Kamis, 23 Mei 2024. Gema paritta suci yang menenangkan terdengar dari Vihara Dharma Loka, menandai puncak perayaan Hari Raya Trisuci Waisak 2568 Buddhist Era (BE). Ratusan warga, baik umat Buddha maupun masyarakat umum, berbaur dalam semangat kebersamaan untuk merayakan tiga peristiwa suci: kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, dan wafatnya (Parinibbana) Sang Buddha Gautama.
Perayaan Waisak di Desa Suka Makmur tahun ini mengusung tema nasional, “Kesadaran Keberagaman Jalan Hidup Luhur, Harmonis dan Bahagia”, sebuah pesan yang sangat relevan dengan kehidupan masyarakat desa yang majemuk. Rangkaian acara telah dipersiapkan dengan matang oleh panitia desa dan pengurus vihara, melibatkan partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat.
Kegiatan dimulai sejak pagi buta. Sekitar pukul 07.00 WIB, puluhan warga telah berkumpul di sepanjang jalan utama desa untuk mengikuti prosesi Pindapata. Dalam ritual ini, para Bhikkhu berjalan tanpa alas kaki sambil membawa mangkuk untuk menerima dana makanan dari umat. Warga dengan tulus memberikan persembahan berupa makanan, buah-buahan, dan kebutuhan pokok. Momen ini bukan sekadar memberi, tetapi juga menjadi sarana melatih kerendahan hati dan kepedulian sosial, sebuah pemandangan yang menghangatkan hati dan mempererat ikatan antarwarga.
Memasuki acara inti, Pujabakti Waisak dilaksanakan di Vihara Dharma Loka. Detik-detik Waisak yang jatuh tepat pada pukul 20:52:42 WIB menjadi momen yang paling ditunggu. Seluruh umat yang hadir melakukan meditasi bersama, dipimpin oleh Bhikkhu Santacitto. Dalam keheningan, mereka merenungkan ajaran Sang Buddha tentang cinta kasih (Metta) dan welas asih (Karuna).
Dalam pesan Dharma-nya, Bhikkhu Santacitto menekankan pentingnya menerapkan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari. “Waisak adalah momen untuk introspeksi diri. Mari kita jadikan tiga peristiwa suci ini sebagai inspirasi untuk menumbuhkan benih-benih kebaikan, kebijaksanaan, dan kedamaian, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk seluruh makhluk,” ujar beliau. Beliau juga mengajak seluruh warga untuk senantiasa menjaga kerukunan dan menghargai perbedaan sebagai sebuah anugerah.
Kepala Desa Suka Makmur, Bapak Budi Santoso, yang turut hadir dalam perayaan, memberikan sambutan hangat. Beliau mengapresiasi semangat gotong royong dan toleransi yang ditunjukkan oleh seluruh warga. “Perayaan Waisak di desa kita adalah bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hidup rukun dan berdampingan. Inilah kekayaan sejati Desa Suka Makmur. Pemerintah Desa akan selalu mendukung setiap kegiatan keagamaan yang bertujuan untuk memperkuat persatuan,” ungkap Bapak Budi dengan bangga.
Selain ritual keagamaan, perayaan Waisak kali ini juga diwarnai dengan berbagai kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas, di antaranya:
Sebagai puncak acara di malam hari, ratusan warga mengikuti prosesi Pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi Vihara sebanyak tiga kali searah jarum jam sambil membawa lilin dan bunga. Cahaya lilin yang berkelip di tengah kegelapan malam menjadi simbol penerangan ajaran Sang Buddha yang menghalau kegelapan batin. Suasana magis dan sakral begitu terasa, meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya.
Perayaan Waisak 2568 BE di Desa Suka Makmur telah berjalan dengan lancar, aman, dan penuh makna. Acara ini tidak hanya menjadi perayaan spiritual bagi umat Buddha, tetapi juga menjadi pesta rakyat yang memperkokoh nilai-nilai luhur kebersamaan, toleransi, dan gotong royong. Semoga semangat Waisak terus menyala di hati setiap warga, membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi Desa Suka Makmur tercinta.
Kirim Komentar