Sosial Budaya Nagari Tj Haro Sikabu-kabu Pd Panjang - Dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Nagari Tj Haro Sikabu-kabu Pd Panjang masih terkandung nilai-nilai sosial yang menjadi kearifan lokal dan merupakan pilar-pilar pendukung pembangunan. Prinsip tolong menolong dan tenggang rasa masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam perilaku sehari-hari dalam masyarakat, ibarat pepatah mengatakan “barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang, kabukik samo mandaki, kalurah samo manurun”, “kaba baiak baimbauan, kaba buruak bahamburan”.
Hal tersebut tergambar dalam setiap sendi-sendi kehidupan ditengah-tengah masyarakat antara lain, saat ada kematian ataupun hajatan “baralek”, masyarakat bahu membahu dalam pelaksanaan, gotong royong perbaikan tali bandar, jalan-jalan dan fasilitas umum maupun fasiltas kegamaan, sehingga menumbuh kembangkan rasa persaudaraan, persatuan dan kesatuan.
Dengan kian diperkuatnya sistem pemerintahan Nagari melalui Undang Undang Desa, merupakan suatu momentum dalam rangka peningkatan peran aktif dari Niniak Mamak, Bundo Kanduang, Alim Ulama dan Cadiak Pandai (Tali Tigo Sapilin, Tungku Tigo Sajarangan) untuk membangun Nagari bersama-sama dengan Pemerintahan Nagari. Dengan adanya peran aktif yang kuat dari unsur-unsur tersebut diatas setiap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan dapat langsung menyentuh setiap lapisan masyarakat, karena dalam tatanan adat dimana anak kemenakan adalah dibawah lindungan mamak, dalam pepatah minang mengatakan “kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mufakaik, mifakaik barajo ka bana, bana badiri sandiri”.
Jumlah Suku di Nagari Tj Haro Sikabu-Kabu Pd Panjang :
Kemudian sosial dan budaya masyarakat Minangkabau secara umum dilahirkan dari peradaban lama yang diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat adat. Begitu juga dengan masyarakat Nagari Tj Haro Sikabu-kabu Pd Panjang yang memakai kesenian dan budaya dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernagari seperti :
- Talempong
Dalam kehidupan sosial masyarakat Nagari Tj Haro Sikabu-kabu Pd Panjang tetap mewarisi kesenian talempong (semacam alat kesenian jawa yang bernama gamelan) dalam sejumlah acara adat maupun acara umum. Talempong yang memiliki suara melengking tinggi jika dimainkan secara berirama menimbulkan citra keindahan dipadu padankan dengan keceriaan.
Biasanya talempong dimainkan secara massal beranggotakan minimal 5 orang dengan tujuan terciptanya irama riang. Dimana suara yang berasal dari talempong ini akan saling bersambutan dan menciptakan kesan harmonis.
Talempong sangat identik dengan acara-acara seremonial adat seperti kenduri, baralek nagari, batagak penghulu. Bahkan dizaman dahulu telempong ini juga pernah dipakai saat acara gotong royong.
- Saluang
Saluang adalah alat musik yang terbuat dari bambu persis seperti seruling. Bedanya saluang jika ditiup akan menghasilkan suara yang besar sedangkan seruling menghasilkan suara yang tinggi. Saluang sering dipakai sebagai alat musik yang mengiringi dendang. Sedangkan dendang merupakan lantunan syair yang menceritakan sebuah peristiwa atau sebuah lagu. Biasanya kesenian saluang dipakai oleh masyarakat Nagari Tj Haro Sikabu-kabu Pd Panjang sebagai bagian dari acara syukuran.
- Randai
Kesenian randai telah lama dipelajari oleh masyarakat Nagari Tj Haro Sikabu-kabu Pd Panjang tepatnya di Jorong Sikabu-Kabu bernama santan batapih dan anggun nan tungga. Randai merupakan sebuah padu padan antara menceritakan sebuah alur cerita seperti drama dengan berbagai gerakan tarian dan lagu. Kesenian randai ini sering diperlombakan saat pekan seni dan budaya Kabupaten Limapuluh Kota.
- Alua
Berdasarkan etimologi, alua adalah tata cara yang sudah disepakati sejak dahulu kala. Alua sendiri merupakan etika dalam berbicara untuk menyampaikan maksud dan tujuan pada lawan berbicara dengan menggunakan sastra tinggi yang mempunyai artikulasi tersirat. Alua biasanya dipakai di dalam penuturan niniak mamak dan cerdik pandai pada upacara adat di minangkabau isinya banyak mengandung kiasan, pepatah petitih sesuai dengan bunyi pepatah minangkabau : tembak dibari baalamat kato dibari bakiasan.
- Musyawarah
Musyawarah merupakan budaya asli minagkabau dalam mencari sebuah mufakat atau dalam menyelesaikan perselisihan pandangan. Musyawarah ini telah mendarah daging dalam kehidupan sosial masyarakat dan tetap dikedepankan sebelum mengambil sebuah keputusan. Sehingga hasil keputusan yang diambil dapat diterima oleh seluruh kalangan yang terlibat dalam musyawarah ini. Dimana symbol falsafah saiyo sakato (satu pandangan) dapat terlihat dari adanya “saciok bak ayam, sadanciang bak basi” (seirama dalam menjalankan keputusan).
- Gotong Royong
Gotong royong juga merupakan ciri dan telah membudaya bagi masyarakat minangkabau. Sejak dari nenek moyang, kegiatan gotong royong ini telah berlangsung baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam ber Nagari.
Dalam segi kehidupan, gotong royong masyarakat dapat dilihat dari terjalinnya sekelompok orang yang secara bersama-sama bertanam padi dan memanen hasilnya. Bersama-sama membersihkan sarana pengairan sawah, dan bersama-sama menjaga nilai dan norma adat yang berlaku. Sedangkan dalam segi kepemerintahan, masyarakat juga ikut serta bergotong royong dalam memberi swadaya baik berbentuk materi maupun tenaga.
Motor penggerak budaya gotong royong ini adalah sebuah rasa kebersamaan dan badunsanak (rasa kekeluargaan). Budaya inilah yang harus terus dipupuk agar tumbuh dan berkembang menjadi modal utama potensi sumber daya manusia penggerak pembangunan Nagari.
Sumber : Hasil Pengolahan data oleh Tim RPJM Nagari tahun 2022
Keterangan : data ini bersifat berkala, dan dapat diupdate berdasarkan kondisi serta informasi terbaru, jika ada informasi dan data terbaru kami akan melakukan update secara berkala.